Apa yang Kau Cari Harmoko ?

Harmoko is back!
Begitu judul sebuah berita yang ada di detik.com saat Harmoko, mantan menteri penerangan era Soerharto, memproklamirkan Partai Kesejahteraan Nasional (PKN).

“Hah?? Nggak salah nih?,” begitu pikir saya.

Saya pun menunggu beritanya muncul di televisi hanya untuk melihat bapak yang juga terkenal dengan nama HARi-hari oMOngKOsong. Saya melihatnya berbicara di podium, dengan menggunakan batik lengan pendek warna merah. Saat itu, Harmoko sedang meresmikan partainya yang sudah lolos uji ferivikasi di depkumham.

Waktu Harmoko masih menjabat menteri, saya masih SD. Saya hafal betul dengan muka Harmoko. Matanya yang agak sipit, lesung pipi, senyumnya, dan setelan yang selalu rapih. Dulu, saya tak tahu kenapa dia dipanggil HARi-hari oMOngKOsong. Saya hanya ikut-ikutan sepupu saya yang saat itu masih mahasiswa.

Belakangan, saat reformasi, saya baru mengerti kenapa dia dijuliki itu: Karena Harmoko adalah perpanjangan mulut Soeharto, si penguasa Orba.Karena Harmoko selalu memberi informasi yang tidak benar, yang disukai bapak, tapi dibenci publik.

Dulu, saya selalu bercita-cita mau jadi presiden atau menteri. Karena menurut saya mereka hebat. Mereka membangun Indonesia, punya PELITA dan REPELITA yang selalu diajarkan guru saya. Mereka selalu tampil di TV dengan pakaian yang rapih dan berbicara tentang hal-hal yang bagus.

Rupanya, pandangan saya selama ini salah karena ulah Harmoko. Sial! Ah, betapa Harmoko sudah menipu saya. Tega sekali dia membohongi anak SD, anak SMP, anak SMA, dan hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Saat Soeharto kritis, semua mantan anak buahnya datang menjenguk, kecuali Harmoko. Konon, Jenderal benci sama dia karena berkhianat. Konon, waktu Jenderal lengser, Harmoko cuci tangan dan cari aman. Makanya Harmoko ngungsi ke Australia.

Jadi, sejauh ini, Harmoko sudah membohongi saya, membohongi sebagian masyarakat Indonesia yang percaya OmongKosongnya, dan menghianati Jenderal.

Sepuluh tahun sembunyi, Harmoko come back! Dia bikin partai. Katanya tak berobsesi jadi presiden. Ah, yang benar pak?
Kalau begitu, bisa jadi Harmoko:

1. Sedang melakukan keahliannya: Omongkosong
2. Kena tipu orang-orang yang berOmongkosong. “Masyarakat Indonesia butuh Bapak sebagai pemimpin. Mari buat partai baru” (Baca: Kucurkanlah uangmu untuk kami)

Aduh pak.. Cari apalagi sih?
Kenapa tak nikmati saja masa tua di Australia? Main-main sama anakcucu, jalan-jalan pagi, minum teh di sore hari sama ibu, nonton acara seni, ibadah, atau menulis buku ‘Soeharto di Mata Saya’ atau ‘Dosa-dosa Orde Baru’. Atau kalau mau bukunya laris, tulis saja tentang ‘Seni Berbohong di Hadapan Publik’.

Maaf lho pak. Tapi saya sudah bukan anak SD, jadi nggak mempan lagi sama Omongkosong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: