SBY Selalu Dibalap JK

Pacar saya selalu yakin kalau pada Pemilu 2009 nanti, SBY akan berhadapan dengan JK. “Pasti deh. Jelas banget kok persaingannya,” kata dia.

Analisisnya sederhana. Karena SBY tak pernah mau kalah kalau JK mengeluarkan pernyataan yang akhirnya dikutip semua media massa. Padahal, pernyataannya itu untuk isu yang ringan atawa tak berhubungan langsung dengan peran mereka sebagai Pres-Wapres.

Tapi memang, pada akhirnya itu bisa mendongkrak popularitas JK. Paling tidak, jadi ficer atau HL di media cetak.

Misalnya saja pada kasus-kasus ini:
Penculikan Raisya

Seperti biasa, seusai sholat Jumat, JK selalu mengadakan pertemuan dengan wartawan di rumahnya. Dia akan menjawab apa saja yang ditanyakan wartawan. Mungkin karena kurang isu atau ayah Raisya ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), ada wartawan yang bertanya pendapat JK tentang penculikan Raisya. JK pun berkomentar dan media massa ramai-ramai mengutipnya.

Kata JK: Saya meminta para orangtua dan guru meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka.

Seolah tak mau ketinggalan, esok harinya SBY mengadakan jumpa pers dan juga mengomentari penculikan Raisya. Bahkan, SBY minta Muetia Hatta (Menteri Pemberdayaan Perempuan) untuk terus memelihara komunikasi dengan siapapun yang mengetahui keberadaan Raisya melalui TELEPON SELULAR PRIBADI dengan nomor 08121088253.

”Kalau memang ada yang ingin berkomunikasi untuk mengembalikan Raisya dengan keadaan selamat dan bisa kembali ketemu dengan orangtua dan keluarganya, silakan hubungi nomor HP Ibu Meutia Hatta,” kata SBY waktu itu.

Tapi, menurut saya kok berlebihan sekali ya? Ada begitu banyak kasus penculikan anak, kekerasan TKI, dan isu-isu penting yang harusnya bisa diberi komentar.

Poligami Aa’Gym
Waktu si Aa’ ketahuan menikah lagi, media massa kembali mengutip komentar JK. Lagi-lagi mungkin ulah si wartawan iseng.

Tak mau kalah, istana juga bereaksi. Bahkan, SBY mau cakupan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1983 yang sudah direvisi menjadi PP Nomor 45 tahun 1990 tentang poligami diperluas tidak hanya berlaku bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) tetapi juga pada pejabat negara dan pejabat pemerintah.

Ayat-ayat Cinta

Kira-kira sebulan booming film Ayat-ayat Cinta, JK dan Nurwahid menonton film itu. Kali ini, infotainment pun turut memberitakan. Bayangkan betapa besarnya terpaan media yang diperoleh JK! Puluhan jam infotainment dan ratusan tulisan di media massa cetak.

SBY, waktu JK menonton, kebetulan sedang di luar negeri. Begitu sampai tanah air, bisa ditebak. Dengan memboyong anak-anak, mantu, istri, dan para stafnya, SBY menonton AAC.

Sayang, SBY salah strategi. Entah stafnya yang kurang gaul atau memang SBY pengen banget nonton AAC, sampai akhirnya dia melewatkan datang ke ajang yang menyedot banyak perhatian media massa dan pirsawan: Indonesian Movie Award 2008 (IMA)

Seperti sudah saya duga. SBY dibalap lagi sama JK. Malam itu, saat SBY menonton AAC, JK duduk di meja terdepan penonton FFI. Bahkan, dia menyerahkan satu piala untuk nominasi Pemeran Pria Terbaik pada Dedi Mizwar. Besoknya, selalu ada JK di setiap tayangan berita tentang AMI.

Dan berita SBY?
Hanya berita kecil.

*I

2 responses

  1. iya bener banget, SBY lelet ga kaya JK cepet banget gerakannya. Mungkin karena JK dasarnya saudagar kali ya, jadi apa-apa cepet ga pake banyak mikir. Soalnya kalau kebanyakan mikir pasti kesempatannya lewat.

  2. Nonton pertandingan bola di stadion Senayan juga. Lalu de el el juga….

    Mestinya lebih tanggap selangkah dunk, bukan ngikutin. Ku rasa SBY n tim mesti ngubah strategi, kalo ga ntar banyak diketawain orang…..he he he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: