Saya Tidak Mau Golput

Pemilu 2004, saya memilih untuk tidak memilih (baca: Golput)
Bahkan, saya memakai pin pemberian teman yang tulisannya ‘Partai politik? Ah, tidak. Terima Kasih’

Memang saya pernah memasang stiker PAN (Partai Amanat Nasional) di Nokia 5110 saya. Tapi itu karena Aul, teman nebeng saya, dan Shinta, Sahabat saya, sama-sama mendukung PAN. Stiker pun diberi Shinta yang seluruh keluarganya “Orang PAN”. Maklum, tantenya Shinta ada yang anggota dewan. Buat lucu-lucuan, saya, Shinta, dan Puti nempelin stiker itu di HP kita.

Tapi, saya tidak pilih PAN, walaupun waktu itu saya anggap Amien Rais-Siswono adalah pasangan yang rada “mendingan”.

Teteh yang ngajarin saya ngaji, dulu promosiin PKS. Saya kagum dengan kadernya, tapi saya tidak pilih PKS karena saya tak kenal Hidayat Nurwahid. Kalau si teteh yang jadi Caleg, baru saya pilih PKS. Soalnya si teteh baik, jago ngaji, dan sayang sama murid-muridnya.

Pemilu hampir tiba, beberapa teman pulang ke Jakarta biar terdaftar sebagai pemilih. Ah, malas benar kalau harus pulang ke bekasi urus-urus begituan. Lagipula, buat apa? Toh calonnya tak ada yang menarik hati. Saya tak kenal mereka. Dan saya benci hal-hal yang berbau partai politik: umbul-umbulnya, kaos murah pembagian, massanya yang heboh, orator yang ngomongnya standar, stiker-stker yang ngotorin tembok, sampai visi-misi mereka.

Meningkatkan lapangan kerja! (Huuuu.. STD)
Pembangunan ekonomi berkelanjutan! (Hah? Apapula ini!)
Mengurangi kemiskinan! (Yeahhh… Yang benar saja!)
Kekayaan alam tak boleh dikuasai asing. Usir mereka dari Freeport! (Yayayaya)

2004 SBY-JK, pres-wapres
Nurwahid, ketua MPR
Agung Laksono, ketua DPR
Amien, balik ke kampus
Mega, ke laut

2005 Saya lulus kuliah
2006 Susahnya cari kerja
2007 Wiranto bikin partai
Ah, kenapa begini-begini saja

2008 Saya menyesal dulu Golput. Kalaupun semuanya jelek, semuanya setan, semuanya janji-janji surganerakajahanam, paling tidak saya bisa milih yang cantiknya paling banyak, yang setannya paling dikit, dan yang janjinya paling realistis.

2009 SAYA TAK BOLEH GOLPUT. Tapi saya masih bingung pilih yang mana.

* Salam,

Ika

5 responses

  1. 2004 sih gua ikut tapi setahun habis gua milih gua merasa dibodohi oleh parpol. sialannnnnn…..!!!
    liat aja sekarang DPR kita kaya perampuk, demen pelacur, penipu…… mereka itu udah pantas jadi penghuni neraka

    2009 gua golput deh…..olah mereka itu bikin kepalaku panas aja…… persetan dengan kata mereka

  2. golput pun juga pilihan.. tapi kalau ada sumur di ladang.. lho kok gak sambung.. halah..

  3. daftar partai politik 2009, donk…

    1. boleh kok ambil aja, kaosnya juga ada, dijual kok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: