Pernikahan Hidayat: Bisakah Mendongkrak Suara PKS?

Pagi ini, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menikah dengan janda cantik Diana Abbas Thalib di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini. SBY jadi saksi untuk pengantin laki-laki, JK jadi saksi pengantin perempuan. Din Syamsuddin yang ngasih ceramah pernikahan.

Emas kawinnya, emas sebearat 90 gram. Okezone.com menulis, konon berat mas kawin 90 gram itu melalui pertimbangan khusus. Tahun 2008 ini, Hidayat Nur Wahid genap berusia 48 tahun, sedangkan Diana Abbas 42. Jika angka usia mereka dihitung, maka jumlahnya sama dengan berat mahar.

Undangannya 1000 orang. Yang hadir? Jangan ditanya. Namanya juga pajabat, yang hadir pastilah pejabat juga.

Tamu-tamunya mulai dari Ketua MK Jimly Asshidiqie, Ketua BPK Anwar Nasution dan menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu seperti Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menpera Yusuf Asy`ari.

Alasan mereka menikah, menurut saya mulia. Sejak istri pertama Hidayat meninggal, empat orang anaknya tak ada yang mengurus. Bahkan, sebuah stasiun TV pernah menampilkan berita Hidayat yang sedang menyuapi anak laki-lakinya. See? Kebayangkan kalau lagi rapat dewan, tapi tiba-tiba Hidayat harus datang ke sekolah anaknya buat terima raport. Mendingan ada istri yang bantu ngurusin. Selain itu, mereka berdua juga sepakat menikah untuk mencari ridho Allah SWT.

Lalu bisakah pernikahan ini mendongkrak suara PKS dalam Pemilu mendatang?

Menurut saya, bisa.

Seperti manusia lainnya, Hidayat juga butuh teman untuk saling berbagi. Al-Quran juga menuliskan bahwa Allah SWT menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Jadi kalau nggak berpasangan kayaknya ada yang kurang gitu lho.

Saat memberikan sambutannya di Pernikahan Hidayat, Presiden PKS Tifatul Sembiring bilang kalau kader PKS lega dengan pernikahan ini. Soalnya, bisa meringankan beban Hidayat. Mungkin, maksudnya ada yang Bantu ngurusin anak-anak, kalau Hidayat sibuk di MPR atau sibuk berkampanye.

Kader PKS merasa sejak wafatnya almarhumah, tugas beliau amat berat. Karenanya kami berharap segera ditemukan pendamping baru. Cinta dapat redakan rasa sakit,” kata Tifatul seperti dikutip dari detik.com.

Paling tidak, kalau lagi suntuk, ada teman curhat dan bertukar pikiran. Kalau suntuknya hilang, pasti lebih semangat dong ngumpulin suaranya. Asal jangan kayak orang baru jadian aja, dunia serasa milik berdua. Pengennya berdua melulu, lupa deh ama yang lain.

*I

Ps: Selamat menempuh hidup baru pak Hidayat. Jangan ikut-ikutan tren ya. (baca: kawin-cerai. Heheheā€¦.)

ps: foto diambil dari pontianakpost.com

One response

  1. Wah pernikahannya seperti Ayat-Ayat Cinta…
    Bersahaja, nggak neko-neko…
    Elegan, tidak kampungan, teduh…

    Two thumbs up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: