Bisnis Demo Menjelang Pemilu

Ada satu bisnis yang paling laku menjelang Pemliu. Sebenarnya sih banyak, mulai dari nyetak kaos, masang bendera dan umbul-umbul, bisnis ojek (karena yang kampanye bikin macet), dan bisnis DEMO. Yak, betul! akan banyak calo demo yang bakal kita jumpai.

Dulu sekali, saya peranh menulis tentang fenomena demo bayaran. Waktu itu, di depan Polda Metro Jaya ada ibu-ibu dan nene-nenek demo tentang kebijakan Fauzi Bowo. Karena curiga itu demo nggak bener, alias dibayar, sayapun ngedeketin satu ibu-ibu.

“Bu ngapain ke sini?” tanya saya waktu itu.
“Nggak tahu,” jawab si ibu jujur. “Diajak temen,” lanjutnya lagi.
Mas Widi, teman saya, bertanya juga ke si ibu. “Dibayar nggak bu habis ini?”
“Katanya sih ntar ada,” jawabnya.
“Berapa bu,” tanya Mas Widi.
“Nggak tahu. Katanya sih Rp50 ribu.”
Dan saat kami mulai banyak bertanya, si calo demonya pun mendekat dan mengamankan si Ibu dari wartawan-wartawan iseng.

Selain itu, saya juga pernah meliput demo kebijakan susu, yang pendemonya penjual kaki lima di wilayah blok M. Padahal,demo itu dilakuin ama sebuah parpol. “Kalau jualan paling dapat Rp30 ribu. Ini bisa Rp50 ribu,” kata si abang.

Minggu-minggu ini, lagi banyak demo mahasiswa dan kelompok masyarakat menentang kenaikan harga BBM. Tapi murnikah demo yang dilakukan mereka? Tanpa bayaran, demi kpentingan rakyat kecil? Saya juga belum mencari tahu. Tapi, Badan Intelijen Negara (BIN) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa aksi-aksi mereka ditunggangi (idih….emangnya kuda?)

“Emang siapa yang nunggangi pak?”

“Itu sudah jelas. Kalian sudah tahu itu, tidak usah tanya lah,” kata Ketua BIN Syamsir Siregar ke wartawan.

“Lho? pak? siapa pak? saya nggak tahu lho pak! suer deh!”

“bisa jadi mantan menteri dan pejabat,” katanya sambil ngacir. selain itu, dia juga bilang kalau banyak orang yang demo karena nggak paham penyebabnya.

Kata teman saya, ada aktivis partai yang bilang ke dia kalau yang nunggani itu mendingan diam aja.

“Pemimpin atau bekas pemimpin yang dulu juga pernah menaikkan harga BBM, dan sekarang justru berteriak menolak. Hal ini jadi tidak pantas,” kata si aktivis partai tadi.

“Elite politik juga bekas penguasa jangan jualan ‘kecap‘ di saat rakyat susah,” tambahnya lagi..

Kalau yang dimanfaatin itu ibu-ibu atau nenek-nenek, saya sih maklum. Apalagi kalau mereka emang nggak punya uang beli sembako.

TAPI, kalau yang dikudain itu mahasiswa, ADUH malu banget deh. Mending belajar yang bener. Kalau mau kritik, tulis aja artikel opini atau bikin seminar. Lebih intelek dan lebih ngasilin banyak uang.

Salam
*N & I

ps: Saya yakin tak semua demo mahasiswa ditunggangi. Jadi, kalau ada yang tersinggung, maap-maap aja ya…

Oh iya, tadi si Redaktur Halaman Satu sempat menelepon beberapa ketua organisasi mahasiswa (yang biasanya demo). Semua yang dia telepon tak ada yang mengaku dan marah kalau dituding demonya ditunggangi. ya iyalah.. secara gitu lho..

foto diambil dari suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: