Menjual Islam Untuk Pemilu

Islam memang bukan barang ataupun komoditi, namun dalam pemilu nanti agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia ini akan ‘diperdagangkan’ demi segenggam kekuasaan.

Memang ironis, tapi itulah kenyataannya. Setiap pemilu datang selalu saja ada orang-orang yang mengunakan agama ini untuk mendapatkan kekuasaan.

Para ulama digaet untuk menjadi pendukung suatu partai. Dengan harapan orang mau memilih partai itu karena mereka. Mereka lalu mengunakan ayat Al-quran, hadist nabi untuk memenangkan partai tertentu.

Padahal tugas ulama adalah memberikan pencerahan untuk ummat, atau istilah kerennya menunjukan ummat ke jalan yang lurus. Tapi mereka malah sibuk menjalankan politik praktis, mereka menjadi serakah, iri dengki, dan semua sifat yang seharusnya tidak dimiliki mereka.

Parti-partai juga banyak mengaku yang paling islam, mereka mengunakan azas islam, panji islam dan juga atribut islam. Namun setelah terpilih mereka melupakan Islam.

Ibaratnya Ummat Islam digunakan untuk mendorong mobil mogok. Setelah mobilnya jalan, ummat islam ditingalkan dengan kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan.

Sentimen agama adalah salah satu jualan yang masih laku untuk meraih kekuasaan. Masyarakat level bawah masih sangat polos, mereka akan mengikuti apapun yang dikatakan kiainya.

Mereka menganggap ulama adalah panutan yang harus diikuti, Sayangnya hal ini sering malah dimanfaatkan partai, karena kalangan bawah ini cenderung fanatik, dan akan mengikuti apapun kata ulama.

Seorang teman waktu kuliah dulu pernah bilang begini:

Kalau yang nggak sekolah, biasanya dukung NU

Kalau pinter dikit, bakalan dukung Muhammadiyah

Tapi, pinter banget, malah jadi nggak beragama. Maksudnya, kekuasaan dan uang adalah agama mereka.

Lalu, masihkah Islam dijadikan komoditi pada Pemilu nanti? Sepertinya sih iya. Tapi janganlah mudah percaya, apalagi kalau perilaku mereka jauh berbeda dengan ajaran Islam.

Katanya Islam, tapi korupsi

Katanya Islam, tapi terus-terusan berantem

Katanya Islam, tapi jadi calo proyek di DPR

*N & I

4 responses

  1. Dagangan agama…kok jadul banget ya
    Bangsa kita memang bangsa beragama dan rasanya hampir mustahil memisahkan bangsa ini dengan agama…contohnya jangankan partai agama orang di partai nasionalis pun kadang kelewat bersemangat untuk “dagangan agama” mereka kerapkali bilang Nasionalis tapi agamis,mereka seolah tak ingin di cap sekularis apalagi anti agama sehingga biasanya mereka mengajukan bung hatta yang nasionalis tapi islamismenya tidak diragukan,atau mengajukan sosok cak nur (nurcholis madjid) almarhum yang juga digambarkan seperti bung hatta nasionalis yang agamis.

    Disisi lain kadang kita kurang bijak dan obyektif dalam menilai tokoh islam dan partai islam,sebut saja Mr.Muhammad Natsir, beliau itu dikenal tokoh islamis tapi sesungguhnya beliaulah yang sangat berjasa mengembalikan RI menjadi NKRI lewat Mosi Integral Natsir yang jarang “diakui” jadi sesungguhnya Pak Natsir Perpaduan yang ideal sosok pemimpin yang islamis dan nasionalis…

    Lebih dari itu Nasionalis dan Agamis bukan sesuau hal yang positif manakala dipertentangkan…apapun pilihan dan warna politik sebenarnya tidak terlalu penting sebab yang terpenting bagaimana pilihan itu dikelola agar bermanfaat bagi ummat,bangsa dan negara…

    Wallahu A’lam

  2. Makanya jangan pilih kucing dalam karung, sebagai pemilih wajib mencari tahu sebenar-benarnya tentang calon yang akan dipiihnya….. dilihat. diraba dan terus diterawang…

  3. Sebenarnya sampai akhir zaman pertentangan nasionalis dan agamis tetap akan muncul, wong…. paradigmanya aja udah berbeda. Bukan hal negatif juga ketika pertentangan itu muncul. Yang menjadi masalah adalah bangsa ini belum menemukan sosok2 yang bisa mengelola kedua warna itu karena ditutupi oleh banyak warna bunglon. Oleh karena itu, bunglon yang terdapat pada tubuh nasionalis dan agamis dulu yang harus dipreteli.

  4. judulnya mengerikan sekali tapi penuh arti dan kayaknya sekarang ini emang udah jadi hal yang biasa dengan menjual agama. moga pada cepet sadar diri ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: