Rizal Ramli: Penolakan BLT Pertama Kali dalam Sejarah

Penolakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dilakukan oleh masyarakat, mahasiswa, Gubernur, Bupati, dan Kepala Desa, baru pertama kali terjadi dalam sejarah pemerintahan di Indonesia.

“Ini menunjukkan adanya pembangkangan sipil, seperti yang terjadi di India pada masa Gandhi,” kata Rizal, Kamis, waktu gosippemilu temui di seminar di LIPI.

Setiap orang telah sepakat untuk menolak BLT karena tak sesuai dengan hati nuraninya. Dengan kata lain, telah terjadi conspiracy of heart.

“Media massa memberitakan semakin banyak orang yang bunuh diri karena tak sanggup menghadapi beban hidup. Padahal mereka tahu kalau bunuh diri itu artinya masuk neraka, dan mereka lebih memilih itu,” jelas Rizal.

Kalau saja uang BLT yang besarnya Rp16 miliar dipakai untuk bangun sanitasi desa, irigasi tersier, atau jalan desa, nilai tambahnya bisa empat kali lipat dari BLT, yakni sekitar Rp64 miliar.

Untuk itu, Rizal menawarkan beberapa alternatif untuk menyelamatkan APBN. Pertama, dengan menghentikan subsidi ke bank-bank recap, atau bank-bank yang meminjam uang ratusan triliun tapi bunganya masih disubsidi pemerintah.

“Nilainya lebih dari Rp35 triliun, jauh lebih besar dibanding penghematan jika harga BBM naik, yakni Rp25 triliun.” Kedua, meningkatkan efisiensi Pertamina dan PLN. Ketiga, mengurangi kenikmatan para pejabat yang selalu ingin mendapat layanan first class.

Terakhir, adalah meminta penangguhan utang ke kreditor luar negeri. “Besar pembayaran bunga utang kita lebih dari 25 persen APBN, lebih besar dari anggaran pendidikan.”

“Pak, katanya bapak yang nunggani demo mahasiswa?” tanya saya.

“Kalau ada yang bilang begitu, berarti sudah melecehkan kecerdasan mahasiswa dan aktivis pergerakan.”

“Pak, JK sempet bilang, Rizal Ramli juga kerjanya apa sih waktu jadi menteri. Gimana tuh pak?,” tanya saya dan Mas Akbar dari Tempo.

“Anggap aja itu omongan orang yang sedang panas. Kami bersedia diajak diskusi terbuka dengan SBY, bahkan saya bisa menyusun anggaran yang lebih baik dari pemerintahan saat ini.”

*I

Ps: Rizal Ramli ini papahnya si Puti, temen saya waktu SMA. Dulu Puti kuliah di Teknik Mesin ITB dan terakhir saya ketemu waktu kawinan Dian. Puti itu sangat sederhana, bahkan saat papahnya menjabat menteripun dia masih sering pakai keds yang sudah tua. Sama sekali tidak menunjukkan kalau dia anak menteri.

Saya tak kenal Rizal Ramli. Tapi kalau Puti tumbuh menjadi anak yang sederhana, pintar, dan tidak sombong, bukankah itu indikator keberhasilan Rizal mendidik anak? Bagaimana keberhasilannya dalam dunia ekonomi? Waduh.. Nggak tau juga deh..

One response

  1. hallo Ika, iya keren dan beda deh blognya ama yang lain. selamat ya…kritik dan saranku ada dua 1, ada tautan khusus foto2 berkaitan dengan PEMILU dan Pilkada yang unik-unik getu. 2, Supaya lebih meriah mungkin backgroundnya jangan putih warna apa getu yang meriah mengingat PEMILU adalah pesta rakyat, seperti halnya pesta pernikahan mungkin harus ada warna khusus yang menjadi daya tarik. Oke semoga lekas tumbuh cepat blognya, Bravo Ika, salam,

    Eva

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: