Partai Baru Terburu-buru

Namanya juga partai baru, pastilah semuanya serba disiapkan mendadak.

Minggu kemarin, saya kebagian tugas menulis profil parpol PPPI (Partai Pengusahan dan Pekerja Indonesia). Dan jadilah saya main-main ke markas mereka di jalan Imam Bonjol nomor 44, tepatnya depan kantor KPU Pusat. Sebelumnya, saya sudah sempat menelepon Ketua Umum PPPI, Daniel Hutapea. Sayangnya pas sudah sampai sana, Daniel yang waktu itu kebetulan ketemu di Garasi menolak di wawancarai dan menyuruh saya bertemu Sekjennya Rudy Prayinto di lantai empat.

Dan saya pun naik tangga ke lantai empat. Bukan lewat pintu utama ataupun ruang tengah, tapi lewat dapur. Di lantai dua ketemu ruangan bersekat-sekat (kayaknya berfungsi sebagai kantor), di lantai tiga ketemu dapur lagi, dan di lantai empat ketemu kantor lagi.

Setelah menunggu lama dan disebut sebagai ‘mbak-mbak’ (“Pak, ada mbak-mbak mau wawancara,” kata ibu-ibu yang menerima saya), akhirnya sayapun bertemu pak Rudy. Penampilannya seperti tidak tidur tiga hari: muka berminyak, rambut acak-acakan, mata ngantuk, dan tiga kancing kemeja teratas tak dikancing. Maklumlah, baru sehari sebelumnya dia menyerahkan daftar nama-nama Caleg ke KPU.

“Saya merokok ya,” katanya pada saya. Padahal di dinding belakangnya ada kertas bertuliskan “Dilarang Merokok”.

Saat kami sedang mongobrol tentang awal pembentukan PPPI , HP pak Rudy berbunyi. Dan diangkatnya.

“Ah.. gampanglah itu. Kamu tinggal masukin nama saja, syarat yang kurang nanti bisa menyusul,” katanya ke si penelepon.

“…Kamu ini bagaimana sih, sudah dikasih perahu kok tidak dimanfaatkan,” katanya sambil kesel.

Telepon selesai, kami wawancara lagi. Selama wawancara sekitar satu jam, kira-kira empat kali dia menerima telepon. Dan sekali berhenti sebentar untuk memperkenalkan saya dengan salah seorang Caleg PPPI dari daerah pemilihan Sulawesi Utara.

Seakan tak percaya, saya menyodorkan tangan ke si Caleg yang dimaksud. What can i say? Caleg itu perempuan muda (umurnya 21 tahun kata Pak Rudy), pakai rok mini bahan jeans, kaos kuning ketat lengan pendek, dan ikat pinggang dari logam, rambut dicat coklat muda. Astaga! Saipul Jamil aja menanggalkan kaos ketat dan rambut jigraknya, serta nambahin kacamata. Masa si Caleg ini bernemapilan kayak gitu sih..

Setelah beberapa lama mengobrol, Pak Rudy bilang kalau kantor pusat PPPI yang lima tingkat itu (saya pikir hanya empat) sebenarnya rumah utama Daniel Hutapea. Di belakangnya ada pafiliun yang dihubungkan dengan kolam renang. Saat saya melongok ke jendela, ternyata emang bener boW!!!

Katanya, rumah itu langsung dibangun lima tingkat hanya dalam waktu dua bulan, dengan menggunakan tenaga 40 tukang yang bekerja 24 jam.

Well.. kayaknya partai baru emang gitu kali ya.. semua serba buru-buru. Asalkan bikin program dan kerja dipikrin matang aja bow… Jangan sistem kebut semalam.

3 responses

  1. Kalau buru-buru pasti ada yang kelupaan..hehehe…

  2. ahahaha.. me likey this one. jujursekališŸ˜€

  3. yah… namanya juga partai baru, ibarat mobil baru harus di inrejen dulu deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: