Politik itu Kejam, Sob!

Ada dua kejadian di minggu lalu yang membuat saya ingin mengajak orang lain tak masuk ke dunia politik praktis. Kalau memang waktu kamu banyak, bacalah. Tapi kalau tidak, sudah di-skip saja tulisan ini.

Kejadian pertama:

Saya punya teman yang sangat manis, sebut saja namanya Gula. Sejak dua tahun lalu, saya berteman dengan Gula, tidak akrab sih memang, tapi kami sempat beberapa kali tergabung dalam kelompok belajar.

Minggu lalu, saya main ke rumahnya karena kami ingin berbisnis bersama. Saya datang ke sana untuk membawa barang-barang yang akan kami jual. Karena barangnya terlalu banyak, saya pun membantunya ngangkat barang ke dalam rumah.

Iseng-iseng, saya melihat-lihat foto keluarga yang ada di dinding. Dan ternyata… Jeng..jeng… Bapaknya si Gula itu mantan pejabat KPU (Komisi Pemilihan Umum) Pemilu 2004 yang sempat ditahan dan kini sudah keluar.

“Gul, bokap lo si itu?,” Tanya saya sambil berbisik.

Dengan ekspresi agak terkejut, dia bilang, “Lo tahu?”

“Ya iyalah..,” jawab saya. Well, di era media massa sedang menggila seperti ini, mana ada yang nggak kenal gitu lho.

Dan kami pun sempat kagok jadinya. Di sisi lain, saya penasaran mau nanya-nanya lebih banyak (insting wartawan kali). Di sisi teman saya, mungkin dia tak mau membicarakan hal ini.

“Lo nggak akan bilang ke anak-anak kan?” kata teman saya memastikan.

“Ya nggak lah, Gul,” jawab saya.

“Gul, bokap lo sekarang sibuk apa?” Tanya saya lagi.

“Di rumah aja. Mau istirahat ajah.”

“Nggak ngajar atau isi seminar-seminar gitu?”

“Udah nggak. Mau di rumah aja,” kata Gula.

Dan pada saat saya kembali lagi ke sana dua hari setelahnya, saya melihat bapaknya si Gula. Perasaan saya kok jadi sedih ya. Well, kalau saja tak tersangkut kasus KPU, di bapak bisa menikmati masa tua dengan nyaman dan bangga, apalagi dengan embel-embel guru besar di sebuah kampus. Mengajar, baca buku, main dengan cucu. Saya tak tahu sekarang bagaimana kondisinya. Toh saya tak pernah mengobrol dengan si Bapak. Hanya menduga-duga dengan sotoy.

Kejadian kedua:

Suatu malam di Senayan City, saya berbuka puasa dengan geng jaman kuliah di Unpad dulu.

“Eh, nyokap lo nyaleg lagi nggak?” Tanya saya ke seorang teman yang sangat lucu.

“Udah nggak, Kot.”

“Kenapa emang?” kata saya. “Partai dia kan lumayan tuh, walapun termasuk partai baru.”

“Nggak mau lagi, Kot. Abis uangnya. Soalnya segala macam biaya dan kampanye kan harus pake uang sendiri. Abis banyak banget kemarin,” jawab dia.

Jadi, dari dua kejadian itu membuat saya berpikir dan mengambil kesimpulan. Pada dasarnya, godaan untuk terjun di dunia politik itu sangat menggiurkan. Kepala BPN Joyo Winoto pernah bilang, kalau motivasi manusia itu didorong oleh tiga keingnan: ekonomi, politik, dan seks.

Jadi, orang-orang yang mau terjun ke dunia politik ya untuk mencari ekonomi. Begitu juga sebaliknya. Orang-orang menguasai ekonomi, untuk mencari kekuasaan.

Tapi, politik itu kejam. Dia membuat citra dan kenyamanan sebagai seorang guru besar hancur. Dia juga membuat orang-orang kehabisan duit untuk membiayai jalannya ke sana.

Dulu, JK pernah bilang kalau dia melarang anak-anaknya terjun ke politik. Kenapa? Karena jumlah orang di sana terbatas. Well, anggota DPR/MPR aja jumlahnya hanya sekitar 500 orang. Lalu, DPRD? Ah, paling lebih kecil lagi jumlahnya.

Kalau mau, kata JK, jadilah pengusaha. Karena setiap orang bisa jadi pengusaha dan jumlahnya tak terbatas. Jadi sob, sedari dulu memang orang sering bilang kalau politik itu kejam. Kalau kamu tidak siap dipenjara atau kehabisan uang, sudahlah jangan ikut-ikutan. Lebih baik bikin album, main film, jadi bintang iklan, presenter, atau bahkan main sinteron. Atau, berdagang saja. Toh, Nabi Muhammad juga dulunya berdagang.

Ps: Kalaupun saya mengutip JK, sumpah saya bukan penggemarnya!

Ps: foto keren burung garuda di atas saya ambil dari http://wb4.indo-work.com/pdimage/47/791847_garuda.jpg

8 responses

  1. ikut nimbrung donk….
    gue M. SAID. S.Ag, Caleg DPR RI Dapil Gresik Lamongan dari PARTAI MATAHARI BANGSA ( PMB )
    yang pasti sebelum semua proses berlanjut…..kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita, karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT juga KEPENTINGAN PEMERINTAH yang benar2 bekerja menjalankan amanat RAKYAT, bukan kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ????
    Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin yang “pinter” tapi minteri

  2. he..penggemarnya juga gpp. At least, 2 contoh kasus tersebut ga bisa jadi acuan. Kalo jadi pengusaha dan membuat rakyat celaka? lapindo misalnya..freeport misalnya, atau usaha JK di Sulewana?

    Bagi saya, jadilah orang yang baik..berbuatlah baik apapun anda dan profesi anda..

    1. belajar berpolitik tapi yang baik….perlu. contoh peminpin kita dulu pada masa sebelum kemerdekaan.mereka semua berjuang dan berpolitik…
      kita generasi baru sebagi pengganti.siapa lagi kalo bukan kita.
      tapi jangan poitik bajingan.

  3. buat yth caleg gresik,
    indah juga kamuflase kalimatnya…
    cerdas juga bahasanya,
    yang terakhir utopis bin posmo bgt pikaran mu itu !
    buat nyaleg bae kowe abiz pira mas ?!?
    aja ke`akehan sengek lah !

  4. hallo bro…
    gw mau jelasin singkat padat aja disini….
    sorry nich gw bkn sok mengajari taw mengurui tapi yang gw tau politik itu gak kejam bro….
    politik hanya sebuah ilmu masalah kejam atau tidaknya tergantung orang yang memakai ilmu itu….
    kekejaman adalah kejahatan bukan politik…!!!!
    masalah sikut kanan, sikut kiri itu dah biasa tinggal gmn lu bisa survive dalam permasalahan u….

  5. Pemilu boleh langsung..,
    partai boleh banyak..,
    ABRI boleh ganti nama..,
    TNI boleh tidak di parlemen…,
    KOMNAS HAM boleh didirikan…,
    PERS boleh bicara sesuka hati n’ sesuka para pemilik modal media….,
    TAPI esensi demokrasi yang sejati, dalam bentuk kebebasan berjuang-melawan-mengemukakan pendapat-berideologi, belum berhasil dimenangkan oleh rakyat.

  6. M. SAID. S.Ag, Caleg DPR RI dapil gresik…..
    gw setuju dngn prnyataan kmu bahwa kita hrs sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita….
    Untuk masalah Indonesia membutuhkan pemimpin yang bermental “MENGABDI UTK RAKYAT” dari dulu juga Indonesia butuh pemimpin yang seperti itu mas…bukan sekarang aja, gmn c??,KEMANA AJA NECH SELAMA INI….

    Mas klo menurut gw Kepentingan nasional itu lebih penting dari pada kepentingan individu, kepentingan pemerintah, bahkan lembaga pemerintahan….karena kepentingan nasional sifatnya VITAL…

    gw harep mas adalah seorang caleg yg bnr2 memperjuangkan rakyat bkn skedar ngomong doank tanpa bukti atau mungkin menjadi caleg untuk memperkaya diri…

  7. Bgmana caleg DPR Ri dari PMB sdh banyak suaranya belum,dari hasil 9 April 2009.

    Masih sanggup berkoar-koar lagi nggak sekarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: