Demokrasi Parlementer Telah Gagal

Kamis kemarin, saya sempat mendengarkan orasi ilmiah wartawan senior Goenawan Muhammad di acara Memoriam Lecture Nurcholis Madjid. Meski awalnya males banget liputan acara itu, secara hujan dan malam, tapi ternyat mencerahkan juga.

Goenawan membuka orasinya dengan mengatakan bahwa demokrasi, utamanya demokrasi parlementer, telah mengecewakan banyak orang.

“Bahkan demokrasi yang ditemukan pada tahun 1999 ternyata juga mengecewakan,” tegasnya.

Rupanya, kebimbangan dan kekecewaan pada demokrasi parlmenter punya sejarah yang panjang. “Sekarang, lihat anggota DPR terima suap, legislasi dijalankan tidak penuh karena ada permainan politik yang mengabaikan keadilan,” ucapnya.

Saat ini, partai tak lagi memiliki alasan lain untuk berdiri selain untuk melakukan negosiasi dalam kekuasaan, bukan untuk menggerakkan sesuatu, tapi untuk mendapatkan kedudukan.

Kekecewaan pada demokrasi parlementer, lanjutnya, tak hanya lazim tapi juga punya alasan yang kuat.

“Kekecewaan itu dimulai dari adanya asumsi bahwa ada perwakilan/representasi. Asumsi wakil dan yang terwakili seakan ada kecocokan, padahal setiap kali ada representasi atau perwakilan akan terjadi distorsi atau tak akan pernah ada representasi murni. Hal-hal tertentu tidak bisa diulangi atau diterjemahkan kembali,” urai Goenawan.

Dengan demikian, demokrasi yang berlaku sekarang ini hanya mengandalkan konsensus, yang sebetulnya menyensor yang tidak bisa masuk konsensus. Demokrasi, tegasnya, sering mengabaikan yang berbeda, yang tersisih, dan minoritas, yang dianggap menyimpang seperti ahmadiyah, kaum gay, orang miskin, ataupun orang hitam.

“Kita kembali melihat bahwa dengan yang ada sekarang, tidak bisa menampung perbedaan yang radikal” katanya.

Ia pun lalu menyontohkan Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Obama. Lelaki hitam tersebut, menurut Goenawan, muncul sebagai harapan untuk Amerika yang sudah begitu busuk, untuk menebus dirinya dengan Obama.

Obama sendiri mengatakan bahwa Ia datang dengan agenda perubahan, tapi dalam prosesnya demokrasi di AS juga adalah sebuah usaha menampung mayoritas dan suara mayoritas dan biasanya hanya menuju ke yang tidak ekstrim.

“Maka itu jangan berilusi dengan Obama yang pernah tinggal di Jakarta maka akan membuat israel takut,” tegasnya.

Dalam dunia politik, lanjutnya, ada dua macam kegiatan, yakni negosiasi dan politik perjuangan. Saat ini, menurut Goenawan, politik terjebak pada negosiasi tanpa perjuangan. Padahal, sebetulnya yang diperlukan adalah keadilan. Politik yang murni, atau perjuangan, menunjukkan bahwa demokrasi itu sendiri adalah semangat untuk keadilan.

“Demokrasi harusnya untuk egaliter dan liberty, keadilan dan kemerdekaan,” katanya.

Dalam sebuah demokrasi yang mandeg pun akan terjadi perubahan jika para pelakunya setia pada cita-cita egaliberte. Akan tetapi, tegasnya, keduanya hanya bisa dijalankan jika kita memiliki harapan. “Harapan ini tak dipesan dari Amerika dan tak akan pernah ada keadilan tanpa kita membuatnya.”

Terakhir, tentang harapan, Goenawan, mengutip seorang sastrawan dari Cina yang mengatakan bahwa harapan itu seperti jalan di hutan, awalnya tidak ada. tapi karena banyak orang yang melewatinya, maka jalanpun terbuka.

“Kita harus menempuh jalan itu, agar harapan terbuka,” akhirnya yang diiringi tepuk tangan dari ratusan orang yang mendengarkan orasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: