Sultan Djorghi Mau Nyalonin Bupati

Satu lagi Artis yang mau nyelonin jadi kepala daerah. Sultan Djorghi, suaminya Annisa Trihapsari, mau nyalonin jadi Bupati.

Saat meliput sebuah acara, iseng-iseng saya tanya ke Sultan.

“Pemilu 2009 mau nyoblos gak?”

“Pastilah,” jawabnya. “Orang saya mau nyalonin kok.”

“Ah yang bener mas? Ikut-ikutan Saipul Jamil dong?”, tanya saya lagi sambil tertawa geli dan tertawa sinis.

“Iya beneran,” katanya sambil merhatiin HP.

“Jadi apa mas?”

“Bupati. Tapi nanti aja deh, jangan sekarang ya infonya.”

“Ah, beneran nih mas..”

“Bener kok. Tunggu aja.” (busyet… doi serius rupanya)

“Daerah mana mas? Sama partai apa?”

“Nanti ya… nati juga dikasih tahu kok.”

Yah… ya udah deh… kalo gitu. Ditunnggu beritanya.

Buang celana dalam ke laut sih nggak pernah, tapi dia kan tukang rebut istri orang. Eh, itu juga kata infotainment lho. Bukan kata saya lho mas Sultan.. wikipedia juga bilang gitu. hehe..

ps: foto diambil dari http://tm-artistmanagement.com

Rini Sutiyoso Sempat Malu Pacaran Sama Om-om

Perbedaan usia 11 tahun antara Sutiyoso dan Rini, sempat membuat Rini malu. “Dulu kalau bertemu Bapak saya masih emnganggap, aduh, ketemu om-om,” kata istri mantan Gubernur DKI Jakarta ini pada Kartini.

Awalnya, Mpok Rini suka ngebut (naik apa ya?) kalau lewat mess tentara yang ada di Magelang. Komandan Bang yos waktu itu langsung ngasih tantangan, bisa kenalan dengan cewek si tukang ngebut itu atau nggak. Emang dasar nekat, Bang Yos akhirnya ngejar Rini ke rumah.

“Bapak mengejar saya dan mendatangi kediaman orangtua saya. Dan dia minta izin ke Ibu saya untuk berkenalan. Saya kagum atas kenekatannya,” kata Mpok Rini sumringah.

Awal pacaran sih masih risih. Soalnye, umur si Mpok masih 16 tahun, masih demen rambutnya dikepang dua.

Tapi emang dasar jodoh nggak kemana. Gara-gara Bang Yos ngalamin kecelakaan, dua sejoli ini makin nempel aja. Kok bisa?

Soalnya keluarga Bang os ada di Semarang semua, jadi Mpok Rini deh yang ngerawat. “Saya kasihan karena keluarganya jauh. Jadi kalau pulang sekolah saya jenguk sambil bawain makanan.” Ya tresna jalaran saka kulina (artinya: cinta datang karena ngebesuk tiap hari. Hehehe…)

Dua tahun pacaran, akhirnya Bang Yos ngajak tunangan. Mungkin waktu itu perempuan bertahi lalat di bibir ini emang paling caem, jadinya takut diambil orang. Hehehe…

Emang sih Rini sendiri ngerasa masih terlalu muda, masih kelas dua SMA bow.. Akhinya sih diterima aja atas saran ibunya si Mpok. Kata say amah bang Yos juga udah didesek kawin mulu ama bonyoknya, secara udah 28 tahun bow… (hihihi.. jadi inget bonyok sendiri)

Lulus SMA Rini cuma sempat kuliah satu semester trus dilamar deh. Pas udah nikah, waktunya malah kesita ngurusin anak dan organisasi Persit Chandra Kirana. Jadinya kuliah nggak dilanjutin.

Kata say amah nggak papa lho Mpok. Kan karena dukungan Mpok juga si Abang bisa jadi Gubernur DKI Jakarta. Malah sekarang katanya mau nyalonin jadi Presiden lho…Gimana nih persiapannya Mpok?

“Secara mental saya sudah siap. Karena dulu saat menjadi istri Gubernur pernah ada yang melempar rumah dengan bom. Untungnya ledakannya kecil, hanya mengenai mobil anak saya,” kata perempuan yang juga Ketua PMI DKI ini.

Bujuk buneng…jadi Gubernur aje dilemparin bom, gimane jadi presiden?

“Itu sudah resikonya. Karena dalam sebuah kepemimpinan pasti ada yang senang, ada juga yang tidak,” katanya bijak. (bagus deh Mpok kalau udah ngerti)

So, kalau kamu ada yang punya pacar tuir banget, mending pikir-pikir lagi deh… Nggak maukan dibilang pacaran ama om-om atau tante-tante? Saran saya sih, jangan mudah terpesona ama kenekatan seseorang kalau lagi PDKT. Yang penting, tanya dulu umurnya berapa? J

*I

Ps: tulisan ini dilansir dari Kartini edisi 100 Tahun Wanita Terinspiratif 2008. Mohon maaf kalau gosippemilu menulis ulang dalam versi yang lebih buruk. Yakin dah, meding baca tulisan aslinya di Kartini. Lebih mantap.

foto diambil dari www.jakarta.go.id 

Polling (ke Siswa SMA): Tahu Nggak Lo Pemilu itu Kapan?

Polling Minggu Ini

Jumlah pemilih pemula sangat banyak. Peserta Ujian Nasional (UN) SMA saja ada 2,26 juta orang. Sayangnya, menurut kami mereka tidak tahu dan tak mau tahu tentang Pemilu. Apa betul? Mari kita tanya mereka.

Tahu Nggak Pemilu kapan? Bulan apa? Trus tahu nggak kampanye kapan?

Hasilnya:

56% responden tahu kalau Pemilu akan dilaksanakan pada 2009 (tapi tak ada satupun yang menyebutkan bulannya dengan benar)

43% responden tidak tahu kapan Pemilu

5% responden tahu kalau kampanye akan mulai Juli 2008

Lalu, 35% responden tidak tahu kapan kampanye dimulai

60% responden mengaku waktu pelaksanaan kampanye, tapi sebenarnya tidak.

Berikut beberapa pernyataan mereka:

Dicky (17 tahun, laki-laki): Gak tau. Gak tau. (Tapi tahu nggak Pemilu itu apa?) Nggak. (Yah.. ya udadeh deh.. makasih ya)

Mario (16 tahun, laki-laki): Tau, 2013. (ye…salah). Kampanye sebulan sebelum Pemilu (ye… salah juga tuh)

Yulisna (16 tahun, perempuan): Tau, 2009 (oke deh.. Paling nggak lo tahu tahunnya). Kampanye tahu kok, sebelum pemilu, tapi nggak tahu kapan (iyalah Non.. Masa kampanye abis Pemilu sih)

Puput (17 tahun, perempuan): Tau kok, Juni 2009 kan? (si Non udah sooty salah lagi!). Kampanye dua bulan lagi. (ini dia satu-satunya responden yang tahu kapan kampanye dimulai)

Rosa (17 tahun, perempuan): Tau, Juli 2009. kampanye Februari 2009

Nizar (16 tahun, laki-laki): Tau, 2008 kan? Kampanye mulai 23 November (ah, itu mah tanggal ulang tahun lo kaleee…)

Polling ini dilakukan pada 22 orang siswa SMU 19 Bekasi. Usia mereka pada April 2009 adalah 17 tahun atau lebih.

Ps: Polling ini tidak ilmiah dan hanya untuk lucu-lucuan. Tidak bisa dipakai untuk mengukur pengetahuan seluruh siswa SMU 19 Bekasi tentang waktu pelaksanaan Pemilu. (apalagi pengetahuan semua anak SMA se-Indonesia!). Polling ini dilakukan oleh relawan kami, Syukur (17 tahun, laki-laki), yang pada awalnya juga tidak tahu kapan pelaksanaan Pemilu dan kampanye.

foto diambil dari http://www.kutaikartanegara.com

Bisnis Demo Menjelang Pemilu

Ada satu bisnis yang paling laku menjelang Pemliu. Sebenarnya sih banyak, mulai dari nyetak kaos, masang bendera dan umbul-umbul, bisnis ojek (karena yang kampanye bikin macet), dan bisnis DEMO. Yak, betul! akan banyak calo demo yang bakal kita jumpai.

Dulu sekali, saya peranh menulis tentang fenomena demo bayaran. Waktu itu, di depan Polda Metro Jaya ada ibu-ibu dan nene-nenek demo tentang kebijakan Fauzi Bowo. Karena curiga itu demo nggak bener, alias dibayar, sayapun ngedeketin satu ibu-ibu.

“Bu ngapain ke sini?” tanya saya waktu itu.
“Nggak tahu,” jawab si ibu jujur. “Diajak temen,” lanjutnya lagi.
Mas Widi, teman saya, bertanya juga ke si ibu. “Dibayar nggak bu habis ini?”
“Katanya sih ntar ada,” jawabnya.
“Berapa bu,” tanya Mas Widi.
“Nggak tahu. Katanya sih Rp50 ribu.”
Dan saat kami mulai banyak bertanya, si calo demonya pun mendekat dan mengamankan si Ibu dari wartawan-wartawan iseng.

Selain itu, saya juga pernah meliput demo kebijakan susu, yang pendemonya penjual kaki lima di wilayah blok M. Padahal,demo itu dilakuin ama sebuah parpol. “Kalau jualan paling dapat Rp30 ribu. Ini bisa Rp50 ribu,” kata si abang.

Minggu-minggu ini, lagi banyak demo mahasiswa dan kelompok masyarakat menentang kenaikan harga BBM. Tapi murnikah demo yang dilakukan mereka? Tanpa bayaran, demi kpentingan rakyat kecil? Saya juga belum mencari tahu. Tapi, Badan Intelijen Negara (BIN) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa aksi-aksi mereka ditunggangi (idih….emangnya kuda?)

“Emang siapa yang nunggangi pak?”

“Itu sudah jelas. Kalian sudah tahu itu, tidak usah tanya lah,” kata Ketua BIN Syamsir Siregar ke wartawan.

“Lho? pak? siapa pak? saya nggak tahu lho pak! suer deh!”

“bisa jadi mantan menteri dan pejabat,” katanya sambil ngacir. selain itu, dia juga bilang kalau banyak orang yang demo karena nggak paham penyebabnya.

Kata teman saya, ada aktivis partai yang bilang ke dia kalau yang nunggani itu mendingan diam aja.

“Pemimpin atau bekas pemimpin yang dulu juga pernah menaikkan harga BBM, dan sekarang justru berteriak menolak. Hal ini jadi tidak pantas,” kata si aktivis partai tadi.

“Elite politik juga bekas penguasa jangan jualan ‘kecap‘ di saat rakyat susah,” tambahnya lagi..

Kalau yang dimanfaatin itu ibu-ibu atau nenek-nenek, saya sih maklum. Apalagi kalau mereka emang nggak punya uang beli sembako.

TAPI, kalau yang dikudain itu mahasiswa, ADUH malu banget deh. Mending belajar yang bener. Kalau mau kritik, tulis aja artikel opini atau bikin seminar. Lebih intelek dan lebih ngasilin banyak uang.

Salam
*N & I

ps: Saya yakin tak semua demo mahasiswa ditunggangi. Jadi, kalau ada yang tersinggung, maap-maap aja ya…

Oh iya, tadi si Redaktur Halaman Satu sempat menelepon beberapa ketua organisasi mahasiswa (yang biasanya demo). Semua yang dia telepon tak ada yang mengaku dan marah kalau dituding demonya ditunggangi. ya iyalah.. secara gitu lho..

foto diambil dari suaramerdeka.com

Menanti Akting Yusril di Film Cheng Ho

Banyak cara dapat digunakan untuk dapat menarik pemilih dalam pemilu 2009. Bosan menyerang pemerintah atau buat buku?, mungkin cara Mantan Menteri Hukum dan Ham Yusril Izha Mahendra dapat ditiru. Yusril berakting di sebuah film kolosal.

Menurut Yusril film anyarnya akan beredar Agustus. Di film itu Yusril berperan sebagai Laksamana Cheng Ho. Film yang semula dirancang untuk 26 episode, berkembang menjadi sekitar 30-32 episode, dengan masa tayang selama 50 menit setiap episodenya. Pengambilan gambar sebagian besar telah dilakukan di Thailand dan China.

Banyak orang yang menuding pemutaran film Yusril digunakan untuk mendongkrak popularitasnya untuk maju sebagai calon presiden. Maklum saja kalau film ini nonggol di TV maka pasti banyak orang yang akan lebih mengenal Yusril. Tentu ini bakalan jadi sarana kampaye yang lebih efektif dibandingkan terus-terusan mengkritik masalah hukum, korupsi dan kemiskinan.

Lalu bagaimana tanggapan Yusril tentang tudingan tersebut?  “Itu terserah mereka yang ingin menafsirkannya. Jika memang dikait-kaitkan ya terserah,” kilah Yusril seperti dikutip di okezone.com

Buat yang ga sabar pengen liat filmnya kaya apa coba deh kunjungi situs http://yusril.ihzamahendra.com ada keterangan gimana dapetin sekilas gambaran mengenai film ini dari situs youtube. Bisa akting ga ya bung Yusril ini ? heee..heee

Kalau Finalis Miss Indonesia Jadi Presiden

Thantowi Yahya:
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya. Sumber daya alamnya pun melimpah. Sayangnya sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Katanya negara agraris tapi cari beras saja susah. Pendidikan mahal. Korupsi dan pelangaran hukum ada di mana-mana. Jika anda diberi kesempatan untuk memimpin negara ini. Dari sektor mana Anda akan mulainya?

Finalis I, Priscilla Yvone Supit (Sulawesi Barat) :
Pendidikan, karena bisa membuat Indonesia maju dan dikenal di dunia internasional. (hah??? Segitu aja jawabannya? Dangkal amat!)

Finaslis II, Kartika indah, (Maluku):
Pendidikan, karena jika masyarakat dididik dengan baik dan beri ilmu, maka masalah bisa ditanggulangi dan bisa membangun negara. (what?? Masalah apa dulu nih..)

Finalis III, Sandra Angelia (Jawa Timur):
Hukum. Terapkan aturan lebih dulu. Masyarakat harus disiplin (waduh! Ketahuan ada bakat satpol PP nih). Setelah itu lalu pendidikan. Bebaskan uang sekolah bagi masyarakat kurang mampu, karena saya percaya anak adalah masa depan bangsa. (Mbak, emangnya gak tahu kalau sekarang sekolah udah gratis? Ampe SMP lagi!)

Akhirnya, Sandra jadi juara. Kata Thantowi, dia terpilih dari 32 finalis yang semuanya adalah perempuan yang cerdas dan bekepribadian. (yeyeye.. )

Tapi tenang aja Miss, bukan cuma ratu-ratu kecantikan yang ngomongnya dangkal dan suka ngebullshit. Politikus juga banyak kok. Hehehe..

Ps: maafkanlah saya yang banyak bacot ini. Cantik nggak, pinter juga kagak. Bisanya ngeritik doang, kayak oposisi. Huahaha.. Padahal kalau saya ditanyain ama Thantowi Yahya juga belum tentu bisa. Hmm.. Kok saya tiba-tiba inget ama Bu Mega ya?

Omongan JK yang Selalu Nge-Lead

Kata Nala, apapun yang diucapkan JK selalu layak kutip. Kata salah satu redpel saya, omongan JK selalu bisa dijadikan tulisan HL (headline).

Kok bisa gitu ya?
Saya ingat pernah membaca artikel di Kompas tentang perbedaan SBY dan JK dalam memanfaatkan media massa. Di tulisan itu, Kompas bilang kalau latar belakang pekerjaan mereka (tentara dan pedagang) jadi penentu perbedaan itu. SBY lebih suka bicara dengan teks dan membuat beberapa media massa untuk menyuarakan kegiatannya. Sedang JK lebih senang bicara blak-blakan, tanpa teks, dan memanfaatkan media yang sudah ada. Caranya? Setiap abis sholat Jumat dia nyediain waktu buat “ngobrol” ama wartawan. Dan disanalah JK seringkali cuap-cuap.

Selain itu, menurut saya bisa dilihat dari stereotipe suku mereka. SBY yang orang Jawa biasanya ngomong halus, muter-muter, dan selaw.. (lambret bow). JK yang orang bugis biasanya ngomong lugas dengan nada suara tinggi seperi orang marah.

Terlepas dari itu semua. Menurut saya omongan JK bisa jadi lead karena dia lebih berani bersikap. Kalaupun marah, memang pada tempatnya. Bukan marahin orang yang sedang tidur.

“Kalau mau tidur di luar saja.Bagaimana mau jadi pemimpin kalau di sini saja tidur. Kalian kan dipilih langsung oleh rakyat. Harusnya malu”, kata SBY suatu ketika di Lemhannas. Besoknya sebagian besar media massa bilang kalau amarah SBY berlebihan.

“Kalau ada yang demo menolak kenaikan harga BBM, berarti dia sudah membela orang kaya. Karena subsidi BBM hanya untuk mensubsidi orang-orang kaya,” kata JK baru-baru ini. Bagaimana media massa menyikapinya? Macam-macam. Yang jelas, beritanya berkali-kali diputar di TV.

Kata teman saya, si redaktur halaman satu, SBY tuh mau nyenengin semua orang dan takut kehilangan popularitas. Makanya dia nggak berani bersikap.

Kalau nggak berani, ya nggak bs jd HL dong! (hihihi.. Curcol nih ye..)

ps: foto diambil dari indonesianmusic.net

Pernikahan Hidayat: Balik Modal Gak Ya?

“Kalau terkait dengan jabatannya dan diklarifikasi sebagai gratifikasi harus dikembalikan kepada negara.” (KPK)

Suatu kali saya pernah memergoki ayah saya memasukkan lembaran US dollar ke amplop undangan pernikahan.

“Busyet deh pa. Emang siapa yang nikahan?” kata saya takjub. Maklum, jarang-jarang ngeliat si papa nyimpe US dollar. Paling banter sanya melihat si papa megang uang real, sehabis umroh kemarin.

“Yang nikah ini anaknya bos,” jawab ayah saya.

“Emangnya kalau anak bos harus dikasih dollar,” kata saya lagi.

“Ya… namanya juga bos. Masa ngasihnya dikit. Kalau papa bos, nanti juga dikasih dollar,” katanya lagi.

“Bukannya kebalik ya pa? Karena bos uangnya banyak, harusnya ngasih dikit aja,” kata saya lagi.

Ayah saya diam saja, malas menanggapi.

Siang tadi, semua portal berita menulis tentang tim KPK memeriksa uang angpao yang diterima Hidayat Nurwahid waktu nikahan kemarin. Kalau ada yang jumlahnya lebih dari Rp1 juta (batasan gratifikasi bagi pejabat negara), akan diambil sisanya dan dimasukkan ke kas negara. Hadiah yang diterima nggak hanya pas kawinan aja, tapi semua jenis pesta: ulang tahun, sykuran pulang haji, atau perpisahan.

Terus gimana reaksi pengantin baru kita?

Kata Hidayat, mestinya KPK juga meriksa tamu yang ngasih hadiah, bukan Cuma yang punya hajat. Dia juga bilang kalau nggak ada niatan buat nyari sumbangan,

“Dalam tanda kutip yang menyumbang itu banyak. Dan enggak ada hubungannya saya sebagai ketua MPR. Tapi dari koleganya Diana yang banyak,” kata Hidayat di okezone.com.

Ah, masa sih pak?

Beberapa teman yang sudah menikah bilang kalau biasanya nikahan itu balik modal. “Apalagi kalau ngadain di Jakarta. Kalau di kampung ngasihnya dikit,” kata teman saya yang bukan dari Jakarta dan bukan pemimpin partai.

“Jadi, nikahan Hidayat balik modal gak kata lo?”

“Pastinya. Tapi kalau udah dipotong KPK sih, tauk deh.”

Mari kita menghitung prediksi biaya nikah dengan 1.000 undangan:

Sewa Gedung: Rp29 juta

Catering: 4.000 paket x Rp40.000= Rp 160 juta ( lihat di www.radartarakan.com)

Mas kawin (90 gram emas): Rp270.000 x 90= Rp24,3 juta

Pengeluaran: Rp213,3 juta (belum termasuk harga undangan, souvenir, pelaminan, dll)

Dengan asumsi 1.000 undangan ngasih Rp.1 juta, maka angpau yang didapat: Rp1 miliar. WOW!! Bisa lebih, bisa kurang sih. Tapi ya, tetep balik modal. Hehehehe..

Ah, yang penting mah doa dan ridho orang-orang yang datang kan, Pak?

Ps: kata teman saya, berita yang muncul hari ini cuma akal-akalan PKS. Serupa waktu anggota-anggota DPR fraksi PKS pada ngembaliin mobil dinas. “Lo jangan mau diakalin PKS. Ini tuh untuk menjaga citra mereka tetap bersih. Namanya juga mau Pemilu,” kata teman saya.

foto diambil dari detik.com

 

Bang Foke, Empatilah Sedikit

Kata Fauzi Bowo, biar gak macet, tarif parkir harus dimahalin.

” Di tempat-tempat yang mengganggu kelancaran lalu lintas, biaya parkir harus dibuat lebih mahal,” kata Foke. Intinya, “Silahkan naik busway.”

Sadar nggak sih? Jalanan di jakarta jauh lebih macet akhir-akhir ini? Terutama sejak sebagian jalan difungsikan sebagai jalur busway. Naik busway ternyata juga bukan pilihan nyaman.

Saya sebenarnya ingin bertanya pada Bang Foke. Apakah Bang Foke pernah naik busway? Yang saya maksud dengan naik busway adalah, yah naik sesungguhnya untuk bertransportasi. Bukan hanya naik busway ketika ada peluncuran busway koridor baru.

Pertanyaan kedua, apakah Bang Foke pernah nyetir mobilnya sendiri? Apa dia pernah merasakan sensasi menyetir di Jakarta? Apa dia pernah merasakan dikelilingi oleh sepeda motor yang sudah menyerupai kecebong di kolam kala musim hujan? Apa dia pernah hampir celaka karena ada metro mini, kopaja atau mayasari bhakti yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan? Apa dia pernah kejeblos lubang yang makin banyak menganga di jalanan?

Otak saya semakin setuju, bahwa peraturan dibuat untuk orang lain, bukan untuk orang yang membuat peraturan. Ketika Bang Foke berkata,

Bila pemilik kendaraan keberatan dengan tarif mahal, lebih baik meninggalkan mobilnya di rumah. “Silahkan naik busway.”

Dia sesungguhnya berkata untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Dia menyuruh rakyat yang memilihnya untuk naik busway, tapi dirinya sendiri TIDAK MAU NAIK BUSWAY. Duh Bang Foke, tau ngga sih? Naik busway atau kendaraan pribadi di Jakarta itu sama-sama tidak nyaman. Kecuali kalau Anda naik kendaraan mewah dengan supir pribadi, dan ada voorrijder yang siap membuka jalan, ITU BARU NYAMAN!

Di Singapore boleh-boleh aja pemerintahnya menetapkan tarif parkir yang tinggi. Wong disana ada Mass Rapid Transport (MRT) dan ada bus yang nyaman. Tapi di Jakarta? Haruskah kami membayar tarif parkir mahal, tapi tidak ada fasilitas yang memuaskan. Bahkan pengelola lahan parkir tidak mau bertanggung jawab jika ada kehilangan selama mobil diparkir.

Bang Foke, mungkin Anda perlu belajar bagaimana harusnya ber-Komunikasi Massa yang baik. Itu penting lho, buat modal politik Anda. Pantaskah seorang pemimpin berkata seperti itu? Mana EMPATINYA? Kalau belum bisa menyediakan transportasi nyaman buat kami, minimal Anda bisa menunjukkan sedikit EMPATI.

ps:

Tulisan dibuat berdasarkan pengalaman pribadi miss Ntus setelah naik Busway

foto diambil dari http://www.myrmnews.com/images

Jangan Pilih Capres yang Ketombean

Tahukan kamu kalau ada pemimpin partai, yang juga disebut-sebut bakal maju jadi capres 2009, yang ternyata bermasalah dengan ketombe?

Saya sih belum pernah lihat sendiri. Tapi Nala sudah. Dan rasanya jadi rahasia umum wartawan-wartawan yang pernah wawancarain dia.

“Lupa keramas doang kali, La.” ujar saya memastikan.

“Idiiiih.. Nggak lah. Orang tiap ketemu pasti banyak ketombenya,” kata Nala.

“Di kemeja?” tanya saya lagi.

“Di kemeja, di rambut. Iiiih.. banyak banget deh,” jawab Nala sambi bergidik geli.

Tak mudah percaya, saya pun cek ke beberapa teman wartawan yang pernah mewawancarai si Mr.Ketombe tersebut.

Buzz!!

Saya (S): bow

S: gue mau konfirmasi

S: beneran si anu ketombean?

teman saya (TS): buangettt’

TS: terus kalau ngomong ga nyambung

TS: narsis da cunihin

S: hihihihi

TS: iyaa

S: eh, bow, kayak gmn sih ketombenya dia

S: kl rambut lg lepek doang atau gmn?

TS: gmn ya

TS: ga dia itu mengidap penyakit

TS: yang ketombe berlebih

TS: itu loo

TS: gw lupa namanya

S: emang ada???????

S: ada

S: penyakit kulit kepala

TS: tapi bisa diobatin gak?

TS: hmm bisa sih

S: bow, kl emang bs diobatin knp gak diobatin ama dia?

TS: udah

TS: tapi ga berhasil

TS: itu sama kaya jerawat kot

TS: bisa diobatin tapi kan susah

S: kok lo tau kl dia udah nyoba sembuhin?

S: emang dia cerita?

TS: hehehehe ngira2 aja

TS: masa org banyak duit kaya dia ga malu sih

S: lo mau gak milih presiden yg ketombean?

TS: ga ah

TS: wwcr dia aja gw bersin2 (ini serius)

TS: kan kasian indonesia dimata internasional

TS: malu2in

Lalu, saya tanya lagi ke teman saya yang lain

S: bow bener ya si itu ketombean?

Teman Saya yang Lain (TSL): bener

S: banyak?

TSL: banyak

TSL: lo kenapa?

TSL: ga penting banget

S: hihihihihi.. ga papa. Iseng aja

Memang sih… Sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang ketombean tak mampu memimpin partai atau negara. Dan yang pasti, bukan ketombe yang membuatnya didepak dari kabinet SBY.

Yang jelas, di era perang citra, saya tak mau pilih pemimpin yang ketombean. Ngurus ketombe aja nggak bisa, gimana mau urus yang lain. Sama diri sendiri aja dia tak ambil pusing, gimana sama urusan lain. Hiiiiiii…..

Ayo dong produsen shampoantiketombe. Buktiin keampuhan produk kalian.

*I

Ps:

Saat membuat gosippemilu, tulisan inilah yang pertama kali saya tulis. Tapi selalu batal saya posting, soalnya saya takut dikira menyebar fitnah dan kena UU ITE. Hehehe… Makanya, nama si Capres juga tak saya cantumkan. Tapi, kalau penasaran sama orangnya, tanya mbah google aja, pasti ada deh. hehehe

Pissss………

Bagi kamu yang ketombean juga, jangan sakit hati ya. cakmoki86.wordpress.com punya tips bagus untuk atasi ketombe. Semoga berhasil!

foto diambil dari http://thebeautybrains.com

 

Pernikahan Hidayat: Bisakah Mendongkrak Suara PKS?

Pagi ini, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menikah dengan janda cantik Diana Abbas Thalib di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini. SBY jadi saksi untuk pengantin laki-laki, JK jadi saksi pengantin perempuan. Din Syamsuddin yang ngasih ceramah pernikahan.

Emas kawinnya, emas sebearat 90 gram. Okezone.com menulis, konon berat mas kawin 90 gram itu melalui pertimbangan khusus. Tahun 2008 ini, Hidayat Nur Wahid genap berusia 48 tahun, sedangkan Diana Abbas 42. Jika angka usia mereka dihitung, maka jumlahnya sama dengan berat mahar.

Undangannya 1000 orang. Yang hadir? Jangan ditanya. Namanya juga pajabat, yang hadir pastilah pejabat juga.

Tamu-tamunya mulai dari Ketua MK Jimly Asshidiqie, Ketua BPK Anwar Nasution dan menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu seperti Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menpera Yusuf Asy`ari.

Alasan mereka menikah, menurut saya mulia. Sejak istri pertama Hidayat meninggal, empat orang anaknya tak ada yang mengurus. Bahkan, sebuah stasiun TV pernah menampilkan berita Hidayat yang sedang menyuapi anak laki-lakinya. See? Kebayangkan kalau lagi rapat dewan, tapi tiba-tiba Hidayat harus datang ke sekolah anaknya buat terima raport. Mendingan ada istri yang bantu ngurusin. Selain itu, mereka berdua juga sepakat menikah untuk mencari ridho Allah SWT.

Lalu bisakah pernikahan ini mendongkrak suara PKS dalam Pemilu mendatang?

Menurut saya, bisa.

Seperti manusia lainnya, Hidayat juga butuh teman untuk saling berbagi. Al-Quran juga menuliskan bahwa Allah SWT menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Jadi kalau nggak berpasangan kayaknya ada yang kurang gitu lho.

Saat memberikan sambutannya di Pernikahan Hidayat, Presiden PKS Tifatul Sembiring bilang kalau kader PKS lega dengan pernikahan ini. Soalnya, bisa meringankan beban Hidayat. Mungkin, maksudnya ada yang Bantu ngurusin anak-anak, kalau Hidayat sibuk di MPR atau sibuk berkampanye.

Kader PKS merasa sejak wafatnya almarhumah, tugas beliau amat berat. Karenanya kami berharap segera ditemukan pendamping baru. Cinta dapat redakan rasa sakit,” kata Tifatul seperti dikutip dari detik.com.

Paling tidak, kalau lagi suntuk, ada teman curhat dan bertukar pikiran. Kalau suntuknya hilang, pasti lebih semangat dong ngumpulin suaranya. Asal jangan kayak orang baru jadian aja, dunia serasa milik berdua. Pengennya berdua melulu, lupa deh ama yang lain.

*I

Ps: Selamat menempuh hidup baru pak Hidayat. Jangan ikut-ikutan tren ya. (baca: kawin-cerai. Hehehe….)

ps: foto diambil dari pontianakpost.com

2009, SBY Masih Sama JK

Suatu siang, saya bergosip dengan teman yang aktif di Golkar. Saya tanya-tanya tentang pemilu nanti. Tapi, info yang saya dapat sedikit sekali. Bisa jadi, dia memang tidak tahu, karena belum dua tahun aktif di sana. Atau mungkin, dia tidak mau memberi tahu, karena sedang dibiayai kuliah sama Golkar. Hehehe..

Apapun itu, saya senang bergosip dengannya. Berikut petikan obrolan kami:

Katanya di Golkar banyak banget kubu-kubunya ya? Pemetaannya gimana sih?

Setahu gue, ada dua kubu besar. Kubunya JK ama kubu Surya Paloh (SP). Kalau yang SP itu orang-orang Golkar yang udah lama, yang udah tua-tua (Ooh.. jadi JK itungannya muda)

Trus kalau Akbar Tanjung (AT)?

Yah, ada juga. Tapi nggak bannyak. Beberapa sih ada orang-orang yang masih setia sama dia.

Oh gitu? Padahal, katanya dia memprioritaskan Golkar lho buat jadi kendaraan politiknya. Hehehe..

Kalau 2009 sih Golkar belum ngajuin buat Presiden kayaknya. Masih ngusung SBY ama JK. Lihat saja nantilah.

kalau baca berita-berita di koran, apa yang teman saya bilang bisa jadi bener. Tapi, namanya juga dunia politik. Hari ini A, besok B. Hari ini kawan, besok bisa jadi lawan. Hari ini JK wapres, 2009 bisa jadi Capres. Hehehe…

Salam Gosip!

* I

Konflik PKB, KPU Mendua

KPU mendua mengenai konflik yang terjadi di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Lembaga ini mengizinkan kedua kubu PKB untuk mendaftarkan diri.

Lembaga ini terlihat menghindari konflik di PKB merembet ke tubuh lembaga itu. Soalnya, kalau KPU hanya memperbolehkan salah satu kubu mendaftar, bisa-bisa hancur kantornya diamuk sama massa PKB.

KPU juga ‘menghindar’ dalam penentuan kubu mana yang nanti bisa ikut dalam pemilu 2009, apakah kubu Muhaimin Iskndar atau kubu Gus Dur.

Lembaga ini hanya mengingatkan kedua kubu agar konflik internal PKB dapat selesai sebelum Agustus. Jika tidak selesai juga maka PKB terancam tidak memiliki calon legislatif dan lambang partai itu tidak akan masuk dalam kertas suara.

“Jika hingga Agustus sengketanya belum selesai juga, PKB terancam tidak mempunyai calon legislatif,” kata anggota KPU I Gusti Putu Arta, seperti dikutip detikcom, Minggu (11/5/2008).

Arta, seperti dikutuip di kompas.com, menjelaskan PKB bisa-bisa tidak ikut pemilu kalau konflik internal di partai tersebut tidak kelar pada minggu ke empat bulan Juli.

Keuntungan parpol lain

Konflik yang berlanjutan di tubuh PKB merupakan keuntungan bagi partai politik lain. Kalau konflik ini tidak selesai juga, maka parta-partai lain dapat mendulang suara dari kubu Nahdliyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama - NU).

Suara warga NU yang jumlahnya jutaan bisa digunakan untuk mendongkrak perolehan suara partai lain. Apalagi banyak partai yang mirip-mirip PKB, yang mengandalkan basis suaranya dari warga NU.

Misalnya saja Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) . Partai yang digawangi Choirul Anam ini memang mirip dengan PKB. Mereka juga sama-sama akan mengandalkan basis massa dari warga NU.

Helmi Yahya Mau Jadi Wagub Palembang

Kayaknya, kita akan terus melihat Artis yang terjun ke dunia politik. Setelah Dede, Rano, dan Saipul, kali ini giliran Helmi yahya.

Dia mendaftar jadi bakal calon wakil Gubernur Sumatera Selatan, dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Maklumlah, doi emang asli putra daerah empek-empek ini.

Minggu siang ini, seperti diberitakan detik.com, Helmi mengembalikan formulir pendafatarannya ke PDIP. Katanya, dia terinspirasi sama Rano dan Dede.

Kata Faisal, saudaranya Helmi, presenter kuis itu akhirnya ikut-ikutan ke bursa Kepala Daerah karena diminta masyarakat. Mintanya lewat SMS, telepon langsung dan surat.

Kalaupun Helmi dipilih PDIP, menurut saya memang dia punya kemampuan (nggak kayak Saipul. Hehehe…teteup).

Seingat saya, waktu Pilkada Jakarta, banyak tokoh yang nyalonin jadi balongub/cagub ke PDIP. Bahkan, mereka sudah keburu mengeluarkan uang untuk mempromosikan diri, tapi nggak kepilih juga. Bayangin aja, ada ENAM balongub dan 10 baloncawagub. Semuanya nama-nama hebat (Faisal Basri, Agum Gumelar, Bibit Waluyo, Edy Waluyo, Fauzi Bowo, dan Sarwono Kusumaatmadja)

Bahkan, ada yang ngaku kalau udah keluar uang ratusan juta rupiah cuma untuk bikin program pengasapan DBD. Tapi toh nggak kepilih juga. Maklum deh, keputusannya ada di Dewan Pimpinan Pusat PDIP. Padahal ya, menurut saya dia memenuhi syarat jadi gubernur Jakarta, apalagi syarat yang diajukan PDIP:

“Setia dengan Pancasila, UUD 45, NKRI, dan tetap menjaga pluralisme.”

Gosipnya sih, si-calon-jadi harus nyetor ke partai. Kan kalau Pilkada butuh dana. Yang menang ya yang dananya paling kenceng. Ah, tapi rasanya semua partai juga kayak gitu, bukan hanya PDIP.

Tapi sih, itu gosip aja. Saya nggak tahu yang bener kayak gimana. Hehehe…

Saran saya, bang Helmi pikir-pikir lagilah. Kalau mau bermanfaat untuk orang banyak kan tak harus jadi wakil Gubernur. Jadi presenter juga bermanfaat kok. Bisa menghibur hati pemirsa se-Indonesia, tanpa bikin janjijanji palsu.

*I

ps: foto diambil dari www.ey.com

Capres Mulai ‘Serang’ SBY

Rencana menaikkan harga BBM mulai mendapat serangan dari calon presiden yang akan bertarung di Pemilu 2009. Tentu saja mereka menilai kebijakan Presiden SBY ini tidak pro rakyat.

“Sebelum menaikkan harga BBM, pemerintah harus memikirkan dampaknya. Sebab masyarakat yang dirugikan dengan hal itu,” ujar Megawati, seperti dikutip detikcom, Jumat (9/5/2008).

Hal yang sama diungkapkan Wiranto, ia mengeritik rencana tersebut. Karena menurutnya Presiden mengingkari janjinya sendiri.

“SBY pernah berjanji tak akan lagi menaikkan BBM sampai tahun 2009. Janji itu didengar banyak pihak. Jika pemimpin berjanji, selayaknya janji itu ditepati,” kritik Wiranto.

Tentu saja dengan semakin dekat pemilu, maka semakin sering kritik yang menghujani SBY-JK. Maklum saja kenaikan BBM adalah sasaran empuk untuk menunjukkan betapa pemerintah telah gagal selama ini. SBY pun tahu itu, makanya ia masih menghitung dampak politik dan ekonomi, jika kebijakan itu jadi diambil.